kim kallstrom shot from 30 yards,,Casillas tips it well!!
Corner cick.
Emre pick the corner. ball is kick, Materazzi came forward and his head.....
"Yog, tulung tumbaske mi goreng ngadi yo? (yog, tolong berikan mi goreng ngadi ya?)"
Terpaksa kutinggalkan final liga championsku, melawan musuh bebuyutanku, real madrid. Dengan setengah hati aku pergi ke depan rumah untuk membeli mi goreng. Pikiranku masih melayang pada game yang tadi kumainkan, yang kutinggal begitu saja. Tapi lambat laun pikiran itu mulai pudar, karena mendengar irama dan aroma mi goreng yang sangat menggoda. Sampai ada satu kejadian. Saat itu, saat sang penjual mi tengah asik membuat iramanya, didalam sang istri beserta anaknya sedang berbincang ringan, ketika tiba-tiba sang anak yang masih berusia sekitar 6 tahunan, berkata, sembari tangannya lincah mengiris bawang-bawang....
"Bu, ngene ki aku wis membantu orang tua belum?" (bu, seperti ini aku sudah membantu orang tua belum?)
senyap.
irama mi goreng seakan lenyap di telingaku.
Perutku serasa terpuntir, bergejolak.
ngene ki aku wis membantu orang tua belum.
Kata-kata yang sangat lugu dari seorang anak enam tahun, tapi tidakkah terlihat betapa ketulusan niatnya membantu orang tuanya, tidak ada kemunafikan demi sebuah harapan atau sanjungan dari orang tuanya....
Ya, murni benar-benar ingin membantu.
Tentu sang orang tua -yang aku yakin berusaha setegar mungkin- mengiyakannya. Betapa bersukurnya dia mungkin saat itu.
Sepele mungkin. Iya. Tapi kucoba telusuri memoriku lebih dalam...
Pernahkah dalam usia itu, atau mungkin sampai sekarang, aku seperti anak itu? Berusaha mengiyakan, tapi hati kecil ini berkata tidak. Iya, tidak. Aku mulai membayangkan lagi, menelusuri memoriku lagi,,Apa yang telah mereka beri padaku? Banyak. Banyak sekali. Tak terhitung, tak terbalaskan mungkin. Klise? Iya. Tetapi memang seperti itu kenyataannya. Tapi apa yang kuberi pada mereka? Tak sebanding. Tak mungkin sebanding. Lantas mengapa aku tadi merasa setengah hati? Toh mi yang kubeli nantinya untukku juga...
"Monggo mas"(ini mas)
"Oh nggih pak, matur nuwun!"(oia pak, terima kasih!)
Tak terasa bungkusan mi hangat sudah di tangan.
Entah mengapa, mi yang kumakan serasa lebih nikmat.
"ki susuke sewu.."(ni kembaliannya seribu...)
"ya, makasih ya dik!"
Entah kenapa, kata-kata itu terasa berbeda..
Akhirnya aku kembali ke pertandingan maya ku di komputer.
Inter 1-0 R.Madrid
Senag sekali saat itu, akhirnya timku berhasil mengalahkan real madrid, sekaligus memenangkan Liga Champions!
Gol tunggal Marco Materazzi menjadi penentu kemenangan.
Ah, seandainya pertandingan itu adalah pertandingan nyata, Materazzi pasti akan mendedikasikan gol itu untuk ibunya, yang sudah meninggalkannya selamanya, sejak dia berusia enam tahun.......
so, what time is it?
tell me.....

0 komentar:
Post a Comment