Habis ke smp garap buku tahunan.
tampaknya hari itu akan seperti hari-hari lainnya. menghabiskan waktu setelah bekerja dengan bermain poker, bertiga. aku, didot, ofik. tentunya dirumah ofik yang miskin hiburan. gak ada tivi, radio, komputer,,cuma ada sayur terong entah kapan terakhir disantap, karena kini sudah menjadi santapan lalat.
beruntungnya aku, pikirku saat itu. tiga dari empat poker berada dalam genggamanku. takabur, ingin segera kusudahi game itu, kubanting pokerku. sial. ofik dengan senyum kemenangan menurunkan 7 hati, 7 keriting, 7 sekop, 7 wajik.Bom!!sial...............
entah kenapa, ofik menceracau bahwa Agnes Monica pernah melakukan pemotretan di daerah Godean, ditengah kelicikanku mengocok kartu tanpa sepengetahuan mereka. aku, didot, yang sedikit merasa bosan dengan permainan kami, jadi antusias dengan omongan ofik...
"mana tempatnya fik!?"didot mulai gak sabar. Tempat Agnes Monica melakukan pemotretan -seperti yang dikatakan ofik- tentunya. entah setan apa yang membujuk kami bertiga sudah berada di pegunungan menoreh!! jauh dalam lubuk hatiku yang terdalam dan alam bawah sadarkupun tak pernah menduga bahwa aku akan berada di tempat seasing itu.
kami bertiga yang tak tahu apa-apa tentang daerah itupun tetap menggeber motor menusuk perut-perut pegunungan ditengah hitam kelamnya awan yang mungkin jiga dipotret, akan tampak seperti hasil burning dengan photoshop. hitam sekali awannya.
entah virus sok tau mana yang menghinggap didot, hingga ia memastikan bahwa tempat itu adalah pucak suroloyo. blah!!dimana pula itu??
Sumpah serapah jalan yang kami lalui sungguh menyiksa Supra X ku, hingga beberapa kali aku harus berselingkuh dengan mio demi mendaki jalan dengan bobotku yang bertambah karena lensa 18-135ku sudah cukup berat ditambah body D80. Si Mio sepertinya tidak suka denganku, hingga dia sudi menjatuhkan aku di kubangan jalan.sial..
Setelah poker dan Agnes Monica, kini giliran angin yang menggoncang niat (sejak kapan niatnya yak?) kami memuncaki suroloyo. apa? Iya, suroloyo.
Angin seperti melepas kulit kami ketika kami, mata kami sudah bisa melihat puncak yang sejak tadi hanya ada diangan kami. parahnya beberapa meter sebelumnya kami dikagetkan oleh sesosok wanita berdiri ditengah jalan, membawa payung. entah siapa dia, apa yang dia lakukan, atau mungkin apakah dia?entahlah.
"Puncak Suroloyo".sebuah sign menempel di sebuah pohon dengan posisi arbitary 2 derajat ccw mungkin jika di photoshop.
kini kami kebingungan mencari tempat parkir. ada sebuah rumah kecil, merangkap berjualan makanan. kami datangi saja, dan kami titipkan motor kami disitu. tampaknya rumah itu dihuni oleh pasangan suami istri, paruh baya, dengan jenggot lebat dimiliki sang suami. pikiranku melayang pada adegan film Jelangkung. mereka benar-benar mirip penduduk angker batu!sial..lebih baik lima kali terkena bom dalam poker daripada berada di situasi seperti ini..
perlahan mendaki. beberapa jepret, meski saat itu juga aku semakin mantap bahwa aku tidak suka foto lanscape.
Didot masih semangat naik. tapi aku tidak. apalagi angin kencang sekali seakan pertanda alam mengusir kita.
pukul 17.17 pula. belum sholat.
kami pun turun. menuju rumah kecil tadi, dan atas inisiatif ofik, kita memberanikan diri menumpang sholat disitu.
ternyata mereka tak seperti yang kita duga. suasana nyaman menghinggap dihati kami ketika dengan welcomenya mereka memperbolehkan kita sholat disitu. rumah itu sederhana sekali. ada beberapa kucing dan ayam yang menemani mereka. semakin melayang pikiranku, dan membuka mata ku bahwa tempat seperti itu pasti masih banyak di Indonesia. mengandalkan air tetesan hujan sebagai sumber air penghidupan, kami pun tak tega menghambur-hamburkan air. entah seperti apa jika itu musim kemarau..
semakin membelalakkan mataku, di dalam rumah yang sangat sederhana itu, terdapat sebuah surau kecil, yang nyaman sekali untuk sholat. bahkan surau itu lebih nyaman dari ruang keluarga mereka yang penuh dengan binatang. Sarung yang bersih dan harum menjadi penghantar sholat kami, di tempat yang sejajar dengan awan-awan...
"Dot, aku kerumahmu dulu ya!"
"Ngapain?"
"nyuci motorku, gak enak ma nenekku"
Ofik dan Didot hilang dari pandanganku, dan tak lama kasur kamarku sudah dibebani oleh seseorang yang habis bermain poker, mencari lokasi yang katanya pernah dipakai pemotretan Agnes Monica, dan telah menaklukan Puncak Suroloyo!!

0 komentar:
Post a Comment