Tim Van Damme Inspired by Tim Vand Damme

About me

My Photo
herwanayogi
selamat datang. welcome. bonjour.
View my complete profile

Coffee Bar

Blog

11 May 2011

Secangkir Kopi dari China


     Sehari yang lalu saya menemukan dan mencoba sebuah mesin pembuat kopi saat saya sedang berada di bandara. Mesin itu tampaknya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga saya tinggal memencet kopi jenis apa yang ingin saya nikmati, dengan menaruh cangkir di bawahnya. Cukup asyik bagi saya, karena saya belum pernah mencobanya. Namun ternyata, sensasi mesin instan itu ternyata juga instan. Saya tidak merasakan sensasi lebih dari mesin pembuat kopi tersebut, selain memang capuccino yang dihasilkan cukup memuaskan. Saya jadi teringat pengalaman satu tahun yang lalu, tentang racikan secangkir kopi.
     Suatu hari, karena sebuah urusan, saya harus berkunjung ke Jakarta bersama seorang teman yang belum terlalu lama saya kenal. Karena saya tidak memiliki cukup uang dan kerabat di sana, dan atas kebaikan hatinya, saya akhirnya menginap di rumahnya. Teman saya seorang keturunan China. Saya tidak tahu persis sebenarnya apa pekerjaan orangtuanya, dan saya juga sungkan untuk bertanya kepadanya. Yang saya tahu ibunya memiliki usaha jahit pakaian. Hari sudah malam saat saya sampai di rumahnya, tak sempat bertemu dengan ayahnya. Baru keesokan paginya, secangkir kopi menyapa saya bersama seorang sosok yang saya tebak adalah ayah teman saya. Benar adanya, tawaran kopi pada pagi hari tak akan pernah saya tolak, begitu pula pagi itu. Namun ada yang beda dari kopi pagi saya saat itu. Kopi itu adalah racikan kopi paling nikmat yang pernah saya kecap. Namun karena terburu mengejar waktu, saya tak sempat bercakap-cakap dengan ayah teman saya tersebut. Akhirnya baru saat sore hari kami pulang, saya tergiur menenggak secangkir kopi demi menghibur diri seusai menjelajah kota Jakarta yang angkuh. Di dapur, saat saya sedang meracik kopi saya, datanglah ayah teman saya tersebut. Seakan tak ingin membuat satu butir kopi saja terbuang sia-sia, spontan beliau mengambil alih apa yang saya lakukan. Ia menakar kopi dalam sendok untuk kemudian dimasukkan dalam cangkir. Ia seduh dengan air panas, kemudian ia tutup dengan cawan dari cangkir tersebut. Tak lama, baru ia memasukkan gula, dan mengaduknya. "Gini mas, kalau bikin kopi. Dijamin mantap!". Dan ternyata rasa kopi itu sama dengan rasa kopi yang saya kecap saat pagi, tak ada cacat, sempurna. Seketika itu juga saya sadar, saya sangat beruntung bisa mengecap kopi buah dari racikan tangan seorang ahli, yang tak saya sangka saya temui di sebuah rumah keturunan Tionghoa di salah satu sudut kota Jakarta. Sekaligus saya mendapat ilmu meracik kopi yang bagi saya, sebuah ilmu yang sangat berarti.
     Kejarlah ilmu sampai China. Sepertinya kata-kata tersebut sangat pas dengan kejadian meracik kopi seperti yang saya alami. Bahwa ilmu itu, ternyata tak melulu teori-teori yang tersusun rapi di rak-rak lemari. Namun ilmu itu ternyata sangatlah luas, bahkan hingga meracik kopi pun, ada ilmunya. Dan saya sudah berhasil membuktikan kata-kata diatas, setidaknya saya berhasil mendapat ilmu itu dari seorang China, walau saya tak harus sampai ke China.

0 komentar:

Post a Comment


world in my eyes. Design by Insight © 2009