Saya sudah beberapa kali berkunjung ke ibukota Indonesia,Jakarta. Bagi saya,Jakarta adalah sebuah mini Indonesia, namun dalam sudut pandang kelas sosial. Bukti paling klise adalah gedung-gedung pencakar langit yang berdiri bersandingan dengan rumah-rumah yang beratap langit. Pekerja-pekerja elit yang lewat di antara orang-orang yang sembelit. Pejuang-pejuang baru yang bertempur mencari posisi,menjadi orang sulit,atau menjadi orang pelit. Isu-isu sosial selalu berhubungan dengan si sulit dan si mudah.
Saya sendiri pernah merasakan kedua hal kontras tersebut. Datang dijemput sopir dan tidur di hotel bintang lima,pernah. Datang dengan butiran peluh bersama rangkaian besi yang membawa kuli-kuli bangunan,pernah. Menggelandang dan tidur di lapangan monas pun,pernah. Semua pengalaman yang saya alami,memberi tahu saya bahwa kehidupan di Jakarta itu sangat kontras.
Di awal saya bicara bahwa Jakarta adalah mini Indonesia. Ya,selain kaya akan suku bangsa, Indonesia juga kaya akan ketimpangan. Ironisnya, cermin ketimpangan itu berada di pusat sorotan sebuah negara, yaitu ibukota. Semoga Jakarta bisa benar-benar menjadi ibukota,karena bagaimanapun, saya tak mau ibukota berpindah kejogja.:p

0 komentar:
Post a Comment